Guna menciptakan ruang pembelajaran dan pengembangan kompetensi aparatur yang lebih dinamis, interaktif, serta mendorong budaya berbagi pengetahuan dan praktik baik antarpegawai, Pusat Pengembangan Kompetensi Aparatur Sipil Negara (PPKASN) Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg) resmi menggelar Setneg Learning Festival (SLF) 2026. Perhelatan akbar ini berlangsung selama empat hari, mulai 21 hingga 24 September 2026, dengan memanfaatkan skema pembelajaran hibrida (hybrid learning).
Mengusung tema utama “Belajar, Bertumbuh, Berdampak”, SLF 2026 merefleksikan transformasi pembelajaran aparatur sipil negara (ASN) yang tidak lagi berhenti pada akumulasi pengetahuan teoritis semata. Semangat ini menekankan pentingnya pertumbuhan kapasitas individu serta penerapan ilmu secara konkret agar mampu memberikan dampak dan kontribusi nyata bagi unit kerja, instansi, maupun pelayanan publik secara luas.
SLF 2026 merupakan inovasi terpadu yang memadukan berbagai program andalan PPKASN ke dalam satu ekosistem terintegrasi, meliputi Setneg Serial Lecture, Setneg Talks, Setneg Library Festival, hingga inisiasi Community of Practice (CoP).

Anugerah Pengembangan Kompetensi Kementerian Sekretariat Negara Tahun 2026
Mengawali rangkaian hari pertama, Senin (21/9), agenda dibuka dengan penganugerahan Anugerah Pengembangan Kompetensi Kementerian Sekretariat Negara Tahun 2026. Penganugerahan ini merupakan wujud apresiasi nyata kepada unit kerja yang menunjukkan komitmen tinggi dalam memfasilitasi dan mendorong pengembangan kompetensi pegawainya. Penghargaan ini dirancang bukan sekadar bentuk pengakuan atas capaian administratif, melainkan sebagai katalisator untuk menumbuhkan praktik-praktik baik (best practices) serta menciptakan lingkungan kerja yang kondusif bagi pembelajaran berkelanjutan (continuous learning).
Penilaian Anugerah Pengembangan Kompetensi 2026 didasarkan pada data capaian tahun 2025 melalui lima kategori dan indikator penilaian:
- Kategori Pemenuhan Kewajiban Pengembangan Kompetensi: Mengukur persentase capaian pemenuhan minimal 20 Jam Pelajaran (JP) pengembangan kompetensi tercepat pada semester I.
- Kategori Desentralisasi Pengembangan Kompetensi: Menilai persentase jumlah kegiatan pengembangan kompetensi di tingkat unit kerja yang diajukan secara resmi melalui jalur Pelaporan Sertifikat Pengembangan Kompetensi Unit Kerja (PSPKU).
- Kategori Dukungan Pengembangan Kompetensi Mandiri: Mengukur persentase unit kerja yang pegawainya proaktif melakukan peningkatan kapasitas mandiri melalui jalur Pelaporan Sertifikat Pengembangan Kompetensi Mandiri (PSPKM).
- Kategori Global Exposure: Menghitung persentase pegawai di unit kerja yang mengikuti kursus/pelatihan singkat di luar negeri serta pelatihan dalam negeri yang diselenggarakan dengan pengantar bahasa asing.
- Kategori Kualifikasi Pendidikan Pascasarjana: Mengukur persentase jumlah pegawai pada unit kerja yang telah menyelesaikan jenjang pendidikan pascasarjana (S2/S3).
Berdasarkan formulasi perhitungan capaian indikator-indikator tersebut, panitia menetapkan tiga unit kerja terbaik dengan skor persentase tertinggi sebagai penerima anugerah pada masing-masing kategori.

Setneg Serial Lecture (SSL) Seri 5
Masih dalam rangkaian hari pertama, kegiatan berlanjut dengan sesi Setneg Serial Lecture (SSL) Seri 5. Sesi pembuka menghadirkan Penghageng Tepas Tandha Yekti Keraton Yogyakarta, Gusti Kanjeng Ratu Hayu, yang mengupas materi “Empower to Impact: Mengembangkan Potensi dan Menggerakkan Perubahan Positif”, diikuti paparan inspiratif dari sejarawan Asep Kambali dengan tema “Revive Our Heritage: Menghidupkan Kembali Nilai Budaya dan Memperkuat Identitas Bangsa”.

Setneg Talks Seri 5
Pada siang harinya, forum dilanjutkan dengan Setneg Talks Seri 5 bertema “Dari Studi ke Kontribusi: Kiprah Alumni Tugas Belajar bagi Kemensetneg”. Lima orang alumni tugas belajar—Kartika Puspitasari, Bernardino Rakha Adjie Brata, Hana Rakhma Arimbi, Rio Gunawan, dan Ika Narwidya Putri—membagikan refleksi dan pengalaman nyata mengenai translasi keilmuan hukum transnasional, analisis lintas sektor, hingga pembentukan jejaring global guna memperkuat efektivitas kerja di lembaga kepresidenan.

Penguatan Komunitas Belajar dan Bincang Buku
Agenda hari kedua, Selasa (22/9), diisi dengan pengenalan dan Kick-Off Community of Practice (CoP) di lingkungan Kemensetneg bersama Kepala Pusdatin BPSDM Pemprov DKI Jakarta, Andhika Karuniawan Ananda, serta perwakilan CoP Setneg Book Club. Inisiatif CoP ini hadir sebagai ruang pertukaran keahlian berkala lintas bidang seperti kebahasaan, teknologi informasi, hingga forum ekonomi makro. Pada hari yang sama, digelar pula Bincang Buku “Di Luar Radar” bersama penulis perjalanan Trinity Traveler.

Seminar Nasional: “Perpustakaan di Era Kecerdasan Artifisial: Memperkuat Literasi, Inovasi, dan Keterlibatan Masyarakat”
Pada Rabu (23/9), panggung Setneg Library Festival menggelar Seminar Nasional: “Perpustakaan di Era Kecerdasan Artifisial: Memperkuat Literasi, Inovasi, dan Keterlibatan Masyarakat”. Seminar dibuka dengan keynote speech dari Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Kreatif, Yovie Widianto, serta menghadirkan Direktur Repositori, Multimedia, dan Penerbitan Ilmiah BRIN, Hendro Subagyo, bersama Pustakawan Universitas Nasional, Kalarensi Naibaho.

Bibliobattle 2026
Rangkaian festival ditutup meriah pada Kamis (24/9) melalui ajang ulas buku cepat Bibliobattle 2026 bertajuk “Know books through people, know people through books!”. Sebanyak sembilan perwakilan aparatur unjuk gigi mempresentasikan gagasan dari buku-buku pilihan, mulai dari dinamika institusi dan kebebasan dalam The Narrow Corridor, karya klasik Bumi Manusia, pembentukan karakter di Atomic Habits, hingga telaah sejarah tata kota Jakarta: History of Misunderstood City.
Penyelenggaraan SLF 2026 membuktikan konsistensi PPKASN Kemensetneg dalam mengintegrasikan pembelajaran formal, komunitas praktisi, literasi perpustakaan, dan apresiasi kinerja institusional demi menciptakan profil ASN yang adaptif, berdaya saing, dan siap memberikan dampak nyata bagi tata kelola pemerintahan.